Cerita Akademi Tenis Kanibal di Film Bloody Tennis 2026

Ambisi untuk menjadi atlet tenis terbaik ternyata menyimpan rahasia mengerikan dalam film horor Bloody Tennis (2026). Sebuah akademi tenis eksklusif yang menjanjikan kesempatan untuk berkompetisi di turnamen bergengsi justru menjadi tempat berlangsungnya praktik kanibalisme, pembunuhan, dan ritual mengerikan demi meraih kemenangan. Di tengah lingkungan yang penuh manipulasi tersebut, seorang atlet muda bernama Sofi perlahan menemukan bahwa keberhasilannya di lapangan mungkin harus dibayar dengan nyawa orang lain.

Kisah dibuka dengan kematian Erin, seorang atlet tenis yang sedang menjalani latihan ekstrem di sebuah wisma atlet. Dalam sesi latihan yang tidak biasa, bola-bola tenis yang ditembakkan ke arahnya ternyata berisi bongkahan besi. Tubuh Erin mengalami luka parah akibat hantaman benda-benda tersebut hingga akhirnya ia meninggal dunia. Kejadian tragis ini menjadi petunjuk awal bahwa akademi tenis yang menjadi latar utama cerita bukanlah tempat pelatihan olahraga biasa. Di balik kedisiplinan dan ambisi untuk mencetak juara, terdapat praktik berbahaya yang sengaja disembunyikan oleh pihak pengelola.

Setelah kejadian tersebut, cerita beralih kepada Sofi, seorang atlet muda yang mendapat kesempatan untuk bergabung dengan akademi tenis milik Mary. Ia dijemput oleh Vincent, pria yang bertugas mengantarkan calon atlet menuju wisma. Vincent menjelaskan bahwa tempat tersebut dirancang untuk melahirkan pemain tenis tangguh yang mampu mengalahkan lawan-lawannya di berbagai kompetisi. Sofi yang tertarik mengembangkan kemampuan bermain tenis menerima kesempatan tersebut tanpa mengetahui bahwa dirinya sedang memasuki lingkungan yang penuh ancaman.

Sofi Memasuki Akademi Tenis Mary dan Menghadapi Perundungan

Sesampainya di wisma, Sofi disambut langsung oleh Mary, pemilik sekaligus sosok yang mengendalikan kegiatan pelatihan. Mary mengajak Sofi berkeliling untuk mengenal fasilitas yang akan menjadi tempat tinggal sekaligus lokasi latihan selama mengikuti program akademi. Dalam percakapan tersebut, Mary menjelaskan bahwa Sofi dipanggil untuk menggantikan Erin, atlet yang sebelumnya mengikuti pelatihan tetapi kini dinyatakan hilang. Penjelasan itu membuat keberadaan Erin menjadi misteri, terlebih Sofi belum mengetahui bahwa atlet tersebut sebenarnya telah meninggal akibat metode latihan yang mengerikan.

Salah satu aturan pertama yang diberlakukan Mary adalah menyerahkan telepon genggam agar para atlet dapat memusatkan perhatian pada latihan. Sofi kemudian diperkenalkan kepada pelatih bernama Engkos, yang memintanya mengamati proses latihan sebelum benar-benar bergabung. Di tempat itu, Sofi bertemu dengan Haidi, atlet perempuan yang kemudian menjelaskan dinamika persaingan di dalam akademi. Menurut Haidi, Nelli merupakan salah satu peserta yang paling sulit dihadapi karena selalu merasa lebih unggul dibandingkan atlet lainnya. Nelli berasal dari keluarga petenis terkenal sehingga ia terbiasa mendapatkan perlakuan istimewa. Ia juga dibantu oleh Frida, teman yang kerap melakukan perundungan terhadap atlet baru.

Ketika berada di ruang ganti, Frida menghina raket tenis peninggalan ibu Sofi yang dianggap sudah usang dan tidak layak digunakan. Raket tersebut memiliki nilai emosional yang sangat besar bagi Sofi karena menjadi kenangan dari mendiang ibunya. Sofi tidak tinggal diam menghadapi hinaan itu dan berani membalas perkataan Frida. Sikap tersebut membuat persaingan di antara mereka semakin memanas, sementara Nelli juga menunjukkan ketidaksukaannya terhadap kehadiran atlet baru tersebut.

Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kondisi fisiknya mampu menghadapi pelatihan yang berat. Pada kesempatan lain, Sofi juga disuguhi jus merah pekat yang diklaim mengandung protein dan energi tinggi untuk mendukung performa atlet. Namun, rasa dan aroma minuman itu membuatnya mual hingga muntah. Meski terlihat seperti bagian dari program kebugaran, berbagai metode yang diterapkan Mary mulai menimbulkan kecurigaan.

Pertandingan Seleksi dan Sabotase Raket Tenis Milik Sofi

Menjelang pertandingan seleksi, Sofi merasa gelisah karena harus membuktikan kemampuan di hadapan para atlet lain. Haidi yang mengetahui kecemasan tersebut sempat menawarkan pil yang disimpannya di dalam boneka beruang. Namun, Sofi menolak tawaran itu karena tidak ingin menggunakan zat terlarang yang dapat merusak kondisi tubuh maupun kariernya. Sementara itu, Vincent terlihat melakukan aktivitas mencurigakan pada malam hari. Ia mendekati seekor kucing liar dan memanfaatkan bagian tubuh hewan tersebut untuk membuat senar raket. Adegan ini menjadi petunjuk awal mengenai bahan tidak lazim yang digunakan dalam perlengkapan tenis di akademi.

Pada pagi hari sebelum pertandingan, Sofi menyadari sepatunya menghilang. Setelah mencari, ia menemukan sepatu tersebut berada di kolong tempat penyimpanan. Namun, pertandingan belum berlangsung lama ketika ia tiba-tiba merasa kesakitan akibat benda tajam yang tersembunyi di dalam sepatunya. Seseorang rupanya telah memasukkan paku payung untuk menyabotase penampilannya.

Meskipun telapak kakinya terluka, Sofi tetap memaksakan diri menyelesaikan pertandingan. Ia tidak ingin memberikan kesempatan kepada Frida untuk meremehkan kemampuan bermainnya. Keteguhan tersebut justru membuat Mary dan beberapa peserta lain terkesan. Sofi akhirnya berhasil menunjukkan mental bertanding yang kuat dan mendapatkan tempat di akademi. Namun, rasa sakit akibat luka di kakinya masih terasa setelah pertandingan selesai.

Pada malam harinya, Mary mengungkapkan bahwa sabotase yang dialami Sofi merupakan bagian dari ritual perpeloncoan yang sengaja diterapkan di akademi. Menurut Mary, tindakan tersebut dimaksudkan untuk menguji mental atlet baru sekaligus menjadi tanda bahwa Sofi telah diterima sebagai peserta pelatihan. Walaupun demikian, perlakuan semacam itu memperlihatkan betapa keras dan tidak sehatnya lingkungan yang harus ia hadapi.

Pelatihan Ekstrem dan Persaingan Menuju Turnamen Wimbledon

Setelah resmi bergabung, Sofi mulai menjalani program latihan bersama enam atlet lainnya. Mary menjelaskan bahwa akademi tersebut memiliki kesempatan mengirimkan atlet terbaik untuk memperebutkan tiket wild card ke turnamen Wimbledon. Pengumuman itu membuat para atlet semakin bersemangat, tetapi juga memperbesar persaingan di antara mereka.

Mary menerapkan metode latihan yang tidak biasa, termasuk latihan fisik dan ritual yang diklaim dapat meningkatkan energi serta potensi tubuh. Salah satu metode paling menjijikkan adalah memaksa Sofi menelan lintah hidup-hidup dengan alasan dapat memperkuat energi dan cakra. Sofi merasa tidak nyaman, tetapi ia terpaksa mengikuti instruksi tersebut karena ingin mempertahankan posisinya di akademi. Pelatihan yang semula dipandang sebagai jalan untuk mengembangkan kemampuan tenis mulai terasa seperti rangkaian ujian yang mengabaikan keselamatan atlet.

Persaingan kemudian memasuki tahap baru ketika Mary mengumumkan turnamen internal dengan sistem gugur. Nelli dan Bana, atlet yang berada di posisi teratas, langsung ditempatkan di bagan atas. Sementara itu, Sofi dijadwalkan bertanding melawan Haidi, sedangkan Sue harus menghadapi Frida. Atlet yang kalah akan langsung tersingkir dari kompetisi dan dipulangkan ke negara asalnya. Keputusan ini membuat setiap pertandingan terasa semakin menentukan, sebab kekalahan bukan hanya berarti kehilangan kesempatan meraih gelar, tetapi juga harus meninggalkan akademi yang selama ini menjadi tempat mereka berlatih.

Haidi berusaha menekan mental Sofi dengan kembali menghina raket peninggalan ibunya. Tidak lama kemudian, Sofi mendapati raket tersebut telah dihancurkan oleh seseorang. Ia mencurigai Haidi sebagai pelaku sabotase, tetapi Haidi menyangkal tuduhan tersebut. Ketika konflik semakin memanas, Mary menyarankan Sofi menggunakan raket pengganti yang disediakan Vincent. Raket itu memiliki senar yang dibuat dari bahan tidak lazim, yaitu usus kucing. Meski awalnya terkejut, Sofi justru merasa raket tersebut nyaman digunakan dan mulai memanfaatkannya dalam sesi latihan.

Haidi Mengalami Sakau dan Menghilang Secara Misterius

Masalah Haidi semakin memburuk ketika ia mulai mengalami gejala sakau akibat kehilangan pil yang biasa dikonsumsinya. Ia mendatangi Sofi untuk mencari boneka beruang yang selama ini digunakan sebagai tempat menyimpan barang terlarang tersebut. Namun, Sofi mengaku tidak mengetahui keberadaan boneka itu. Kondisi Haidi semakin tidak terkendali karena ia sangat membutuhkan pil tersebut, sementara persaingan di akademi terus berjalan tanpa memberikan ruang baginya untuk memulihkan diri.

Saat pertandingan antara Sue dan Frida berlangsung, Frida berhasil mengalahkan lawannya dan memastikan tempat di babak berikutnya. Haidi yang dijadwalkan menghadapi Sofi kemudian meminta agar pertandingan mereka ditunda karena kondisinya semakin buruk. Sofi yang merasa Haidi tidak mampu bertanding menyarankannya untuk menyerah saja. Dalam percakapan tersebut, Haidi kembali membantah telah menghancurkan raket Sofi. Namun, ia akhirnya tidak sanggup melanjutkan kompetisi dan memilih mengundurkan diri. Sofi pun dinyatakan menang tanpa harus bertanding.

Setelah Haidi tersingkir, Nelli dan Frida meminta Sofi membawa boneka beruang milik Haidi untuk digunakan dalam pesta perpisahan Sue. Mereka mengetahui bahwa Sofi menyembunyikan boneka tersebut dan menduga bahwa ia sengaja membuat Haidi kehilangan akses terhadap pil yang biasa dikonsumsinya. Sofi akhirnya menyanggupi permintaan tersebut dan membawa boneka itu ke pesta. Para atlet kemudian mengonsumsi pil yang ditemukan di dalamnya, tanpa menyadari bahwa tindakan tersebut dapat membawa konsekuensi yang mengerikan.

Dalam kondisi sakau, Haidi menerobos masuk ke ruangan Mary untuk mencari obat penenang. Ia mengira benda yang ditemukannya dapat membantu mengatasi gejala yang dialaminya, tetapi ternyata yang tertelan justru gigi Erin. Kejadian itu membuat Haidi panik dan memutuskan melarikan diri dari wisma. Namun, upayanya diketahui oleh Vincent. Dalam pelariannya, Haidi mengalami kecelakaan fatal ketika wajahnya tertusuk besi pagar. Vincent kemudian membawa tubuh Haidi ke ruang bawah tanah, tempat ia bersama Engkos melakukan tindakan yang jauh lebih mengerikan.

Rahasia Kanibalisme di Balik Dapur Akademi Tenis

Salah satu pengungkapan paling mengejutkan dalam Bloody Tennis terjadi ketika terungkap bahwa daging para atlet yang telah dibunuh digunakan sebagai bahan makanan bagi penghuni wisma. Vincent dan Engkos mengolah tubuh Haidi meskipun perempuan itu masih bernyawa ketika dibawa ke ruang bawah tanah. Keesokan harinya, para atlet menyantap hidangan yang disediakan tanpa mengetahui bahwa makanan tersebut berasal dari tubuh teman mereka sendiri. Praktik kanibalisme ini menunjukkan bahwa kekejaman yang berlangsung di akademi bukan hanya berkaitan dengan latihan ekstrem, tetapi telah menjadi bagian dari sistem yang dijalankan para pengelolanya.

Vincent kemudian mengaku telah mengantarkan Haidi pergi sebelum keberangkatannya. Namun, Sofi mulai merasa curiga ketika melihat bercak darah segar di atas pagar. Kecurigaannya semakin kuat setelah Sue yang dipulangkan dari akademi justru tidak pernah sampai ke tujuan. Dalam perjalanan menuju bandara, Vincent mengajak Sue berhenti di sebuah bukit berbatu dengan alasan ingin mengambil buah kaktus liar untuk bekal perjalanan. Namun, tempat tersebut ternyata menjadi lokasi pembunuhan. Sue tewas setelah Vincent menjeratnya menggunakan tali, sehingga semakin jelas bahwa pengelola akademi berusaha menghilangkan siapa pun yang dianggap dapat membongkar rahasia mereka.

Sementara itu, Mary terus menjalankan kompetisi tanpa memperlihatkan penyesalan atas hilangnya para atlet. Ia mengumumkan jadwal semifinal yang mempertemukan Nelli dengan Frida, sedangkan Sofi harus bertanding melawan Bana. Mary mengingatkan bahwa persahabatan tidak berlaku di lapangan karena hanya akan ada satu orang yang menjadi juara. Bagi Mary, kemenangan merupakan tujuan utama, sementara keselamatan maupun hubungan antarpeserta tampaknya tidak lagi menjadi pertimbangan penting.

Semifinal Sofi Melawan Bana dan Kemenangan yang Penuh Tipu Daya

Bana merupakan atlet berbakat yang memiliki ambisi besar untuk menjadi juara dan membanggakan keluarganya. Ia dikenal memiliki kemampuan bermain yang kuat, terutama dalam menjaga fokus selama pertandingan. Sofi menyadari bahwa menghadapi Bana akan menjadi tantangan yang jauh lebih berat dibandingkan pertandingan sebelumnya. Keduanya kemudian bertemu dalam pertandingan semifinal yang berlangsung sengit, dengan Bana menunjukkan permainan yang konsisten dan berusaha mempertahankan keunggulan.

Ketika pertandingan memasuki jeda set kedua, Sofi menyadari bahwa dirinya kesulitan menghadapi konsentrasi dan ketahanan Bana. Ia kemudian mencari cara untuk mengubah jalannya pertandingan. Alih-alih hanya mengandalkan kemampuan teknis, Sofi mencoba mengganggu fokus lawannya dengan memukul-mukulkan raket dan memperlambat jalannya permainan. Taktik tersebut membuat Bana semakin kesal, terlebih cuaca panas membuatnya kehilangan kesabaran. Sofi memanfaatkan kondisi itu untuk membalikkan keadaan dan mulai menguasai pertandingan.

Strategi Sofi berhasil membawanya mencapai match point. Ia akhirnya memenangkan pertandingan dan memastikan satu tempat di final. Namun, Bana tidak mampu menerima kekalahan tersebut dengan lapang dada. Setelah pertandingan berakhir, ia menyerang Sofi menggunakan raket hingga meninggalkan luka di tubuhnya. Sofi memilih tidak membalas serangan tersebut dan lebih mengutamakan kesempatan untuk melangkah ke babak berikutnya. Kemenangan itu membuatnya semakin dekat dengan tiket menuju Wimbledon, meskipun ia belum mengetahui sepenuhnya rahasia mengerikan yang mengelilingi akademi.

Bana dan Frida kemudian dipulangkan oleh Vincent. Dalam perjalanan, keduanya masih menyimpan kekecewaan karena gagal meraih kemenangan. Vincent mengajak mereka berhenti di bukit berbatu dengan alasan ingin memetik buah kaktus liar. Namun, alasan tersebut hanyalah siasat untuk menghabisi mereka. Bana dan Frida akhirnya tewas, sehingga para pengelola akademi dapat menyingkirkan atlet yang telah tersingkir dari kompetisi tanpa meninggalkan saksi yang berpotensi mengungkap kejahatan mereka.

Raket dari Tubuh Bana dan Pengungkapan Rahasia Mary

Pada malam hari setelah semifinal, Sofi terbangun dan melihat penampakan Bana dalam kondisi tubuh yang mengenaskan. Meskipun telah meninggal, Bana masih dapat menampakkan diri selama beberapa waktu karena memiliki kemampuan spiritual yang diwariskan keluarganya. Bana kemudian mengajak Sofi mengikuti dirinya untuk mengetahui rahasia kelam akademi. Sofi yang awalnya kebingungan akhirnya dibawa ke ruang bawah tanah, tempat ia menyaksikan Mary dan para pengurus mengolah tubuh Frida.

Sofi dipaksa membantu Vincent mengeluarkan bagian tubuh Bana yang akan digunakan untuk membuat senar raket. Pemandangan tersebut membuatnya menyadari bahwa perlengkapan tenis yang selama ini digunakan para atlet ternyata berasal dari tubuh orang-orang yang telah dibunuh. Raket yang diberikan Vincent bukan sekadar alat olahraga dengan bahan yang tidak biasa, melainkan bagian dari praktik kanibalisme yang telah lama berlangsung di akademi. Sofi merasa ketakutan, tetapi ia tidak memiliki kesempatan untuk melawan karena dirinya masih berada di bawah pengawasan Mary dan para pengurus.

Keesokan harinya, Sofi berusaha meyakinkan dirinya bahwa kejadian yang dialami hanyalah mimpi buruk. Namun, keberadaan raket yang dibuat dari tubuh Bana serta aksesori rambut yang dijadikan jimat membuktikan bahwa semua itu benar-benar terjadi. Ketika sarapan, Sofi mulai menanyakan apakah Nelli telah mengetahui rahasia yang selama ini disembunyikan. Nelli mengaku bahwa dirinya sudah mengetahui praktik kanibalisme sejak awal. Ia bahkan menjelaskan bahwa ibunya dan Mary telah lama bersahabat serta melakukan praktik serupa demi mempertahankan prestasi dan meraih gelar juara dunia.

Pengakuan Nelli membuat Sofi semakin jijik terhadap lingkungan akademi. Ia menyadari bahwa orang-orang yang selama ini dianggap sebagai pelatih dan pengelola profesional sebenarnya membangun keberhasilan melalui pembunuhan serta pemanfaatan tubuh para atlet. Nelli tidak merasa bahwa tindakan tersebut merupakan sesuatu yang salah, sebab baginya kemenangan dan kejayaan akademi lebih penting daripada nyawa orang lain. Dengan demikian, Sofi kini mengetahui bahwa dirinya bukan hanya harus mengalahkan Nelli di lapangan, tetapi juga harus menghadapi sistem kejam yang telah mengakar di tempat tersebut.

Pemeran

  • Sandra Guldberg Kampp
  • Elina Löwensohn
  • Tracy Gotoas
  • Lily Taieb
  • Juliana Vieira-Guerra
  • Helena Zengel
  • Lucie Zhang
  • Vincent Romeo
  • Zlatko Buric
  • Ambre Olive
  • Tyriq Sims
  • Chris Rogers

Ending Bloody Tennis 2026: Sofi Menjadi Juara dengan Cara Mengerikan

Pertandingan final untuk memperebutkan tiket wild card Wimbledon akhirnya dimulai dengan mempertemukan Sofi dan Nelli. Mary berharap Nelli dapat mempertahankan dominasinya, sementara Sofi justru memperlihatkan sikap yang sulit ditebak. Pada awal pertandingan, Sofi terlihat tidak memberikan perlawanan maksimal dan seolah sengaja membiarkan Nelli menguasai permainan. Sikap tersebut membuat Mary dan para penonton merasa heran, tetapi Sofi sebenarnya sedang menunggu kesempatan untuk menunjukkan kemampuan yang selama ini tersembunyi.

Ketika memperoleh kesempatan memukul bola, Sofi mulai memperlihatkan kekuatan yang luar biasa. Pukulan-pukulannya menjadi semakin keras dan akurat hingga membuat Nelli kesulitan mengantisipasi serangan. Sofi mampu mengubah jalannya pertandingan secara drastis, bahkan sampai menyebabkan Nelli mengalami cedera serius. Jari Nelli remuk akibat terkena bola yang dipukul dengan kekuatan ekstrem, tetapi ia tetap berusaha melanjutkan pertandingan karena menyadari bahwa menyerah bukanlah pilihan yang dapat menyelamatkannya dari situasi tersebut.

Sofi kemudian memperlihatkan kemampuan terbaiknya melalui serangan pamungkas yang sangat kuat. Pukulan tersebut menghantam Nelli hingga menyebabkan kematiannya di lapangan. Dengan berakhirnya pertandingan itu, Sofi dinyatakan sebagai pemenang dan berhasil mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Wimbledon. Mary menyambut kemenangan tersebut dengan penuh kebanggaan karena menganggap Sofi sebagai penerus yang tepat bagi kejayaan akademinya. Namun, kemenangan Sofi ternyata tidak membuat rasa laparnya menghilang.

Sebagai bentuk perayaan, Mary menyajikan hidangan khusus yang dibuat dari tubuh Nelli. Sofi menyantap makanan tersebut, tetapi kemudian mengungkapkan bahwa dirinya masih merasa lapar dan membutuhkan daging segar dari mantan atlet kelas dunia. Mary justru menganggap permintaan itu sebagai tanda bahwa Sofi telah siap menerima warisan yang selama ini dipertahankannya. Ia kemudian menawarkan jantungnya sendiri kepada Sofi. Tanpa ragu, Sofi memakan jantung Mary hingga pelatih yang selama ini mengendalikan akademi tersebut akhirnya meninggal dunia.

Setelah Mary tewas, Vincent dan Engkos mengantarkan Sofi untuk mengikuti turnamen Wimbledon. Mereka yakin bahwa atlet muda tersebut memiliki kemampuan yang tidak akan mudah dikalahkan oleh pemain lain. Sofi yang semula datang ke akademi dengan harapan menjadi atlet profesional kini telah berubah menjadi sosok yang mewarisi kekejaman para pengelola. Ia bukan lagi sekadar peserta yang berjuang untuk meraih kemenangan, melainkan seseorang yang telah menerima praktik kanibalisme sebagai bagian dari jalan menuju kejayaan.

Makna Film Bloody Tennis: Ambisi, Kanibalisme, dan Harga Sebuah Kemenangan

Bloody Tennis (2026) menghadirkan kisah horor yang menggabungkan persaingan olahraga dengan praktik kanibalisme dan manipulasi psikologis. Akademi tenis Mary digambarkan sebagai tempat yang menjanjikan prestasi, tetapi di balik reputasi tersebut terdapat sistem yang menjadikan atlet sebagai korban demi mempertahankan kejayaan. Pelatihan ekstrem, sabotase, penyalahgunaan zat, hingga pembunuhan memperlihatkan bahwa ambisi untuk menjadi juara telah berkembang menjadi obsesi yang tidak lagi mengenal batas moral.

Perjalanan Sofi menjadi inti dari perubahan tersebut. Pada awal cerita, ia merupakan atlet muda yang berusaha mengembangkan kemampuannya sekaligus mempertahankan kenangan terhadap mendiang ibunya melalui raket peninggalan keluarga. Ia berani menghadapi perundungan dan tetap bertanding meskipun mengalami luka. Namun, setelah menyaksikan pembunuhan serta praktik kanibalisme yang dilakukan para pengelola, Sofi justru semakin larut dalam kekejaman akademi. Kemenangan di final menjadi titik perubahan yang menunjukkan bahwa ia telah menerima kekuatan dan warisan mengerikan dari Mary.

Film ini juga memperlihatkan bagaimana persaingan dapat menghancurkan hubungan antarmanusia ketika kemenangan dijadikan satu-satunya tujuan. Nelli yang merasa dirinya lebih unggul, Haidi yang terjebak dalam ketergantungan obat, serta Bana yang berambisi membanggakan keluarganya merupakan gambaran atlet dengan tekanan dan motivasi berbeda. Namun, mereka semua berada dalam lingkungan yang tidak sehat, di mana keberhasilan sering kali ditentukan oleh manipulasi dan kekerasan, bukan semata-mata kemampuan olahraga.

Bloody Tennis (2026) memperoleh rating IMDb sebesar 4,5, sementara narator memberikan penilaian pribadi sebesar 5,5. Cerita film ini ditutup dengan keberangkatan Sofi menuju Wimbledon bersama Vincent dan Engkos, menandai bahwa praktik mengerikan di akademi belum tentu berakhir meskipun Mary telah tewas. Di balik keberhasilan Sofi menjadi juara, tersimpan kenyataan bahwa ambisi yang tidak terkendali dapat mengubah seseorang menjadi bagian dari kejahatan yang sebelumnya ia anggap tidak dapat diterima.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *